Senin, 09 Juli 2018

can't i say imu

Would rather share silent with you,
than laughter with a crowd
Maybe the heart misleads,
but i'd rather be lost
So three words, keep replaying
But i dare not say
Something this overwhelming,
Lives in no cage
 Three words
 Do not
 Do justice
 To missing you

Jumat, 08 Juni 2018

This is LIFE

Perjalanan seseorang dalam mewujudkan impiannya tak bisa dikatakan mudah. Namun, yakinlah proses menggapainya memberikan banyak pelajaran dan menyadarkan INIKAH HIDUP ??? .

Tahun 2018, menjadi tahun yang membuat kepala gue lumayan puyeng. Bukan puyeng karena penyakit. Tapi, karena banyak impian yg pengen dan bahkan harus diwujudkan di tahun ini. 
Sebenernya, kalo mau flasback ke belakang after gue graduate dari strata 1, rasanya idup gue ga berenti mengejar sesuatu. Tahun 2013 gue langsung ngambil S2. Trus lagi ngerjain thesis, gue married after married gue langsung dianugerahi anak plus gue bisa lulus S2. And now, tahun 2018 ada impian gue yg harus gue wujudkan demi membahagiakan orang yg udh menyayangi gue sejak gue dalam kandungannya. 

Alhamdulillah puji syukur, gue ga tau lagi harus bilang apa. Because one by one impian yg telah gue rancang bisa tercapai. Meskipun dalam perjalanannya menyisakan cerita yg luar biasa menguras emosi. 

Bahkan lebaran kali ini, menjadi lebaran yang membuat gue bakalan menjalani hidup di tempat yang baru. 
Gue pernah denger move on itu bukan ga bisa menerima yg baru tapi karena kita sudah nyaman di tempat lama. Gue harap sih, gue bisa langsung move on. 

Di bulan Juni tahun 2018 ini gue bersyukur banget karena gue masih diberikan kesehatan dalam mewujudkan impian gue. Jujur, dalam proses mewujudkan impian, tiap hari gue selalu nervous. Selalu muncul pertanyaan, Gue bisa ga ya ?' ga jarang juga, gue ngerasa psimis, ngerasa lelah, ngerasa iri dengan hidup orang lain. Padahal gue sendiri belum tahu hidup orang lain lebih bahagia atau engga dari hidup gue. Sering juga gue ngerasa, idup gue gini amat ya ? Hahahaha 
Padahal gue masih sehat walafiat, tangan kaki mata hidung mulut gue masih lengkap. Gue masih makan enak, gue bisa makan baso setiap hari wkwkwkwk 
Tapi, ko bisa bisa nya gue bilang idup gue susah. But, i'm an only human. Wajar kali ya, klo gue ngerasa kayak gitu. 

Pada akhirnya, gue sadar. Mungkin ini yang namanya hidup. Dulu waktu gue masih SMP gue sering baca buku motivasi katanya sih hidup itu perjuangan. Bahkan ada tuh di lagu nya Dewa. "Hidup adalah perjuangan tanpa  henti henti" yang bisa tolong nyanyiin 😄

Dulu, gue sih cuma bisa baca aja. But now, i feel it. This is life. Oh my god. Benarkah hidup itu perjuangan. 
Dari perjuangan itu, gue bisa simpulkan. Kenapa sih kita harus berjuang. Padahal gue bisa egois. Gue ga usah repot2 mikirin bahagiain orang lain. Gue bisa aja foya foya buat diri gue sendiri. Tapi, apakah dengan cara itu gue bisa happy? Gue yakin ga akan. 

Maybe, that's why. Gue suka nongkrongin youtube buat dengerin atau kepoin hidup org lain. Bukan buat gue imitate or duplicate. Tapi, seenggaknya klo gue bisa liat hidup org lain, biasanya gue lebih bisa bersyukur dengan hidup gue. Rasanya itu formula yg cocok buat bikin semangat gue naik lagi. 

Banyak banget manusia didunia ini yg tidur cuma 1 atau 2 jam sehari. So, intinya jgn ngerasa menjadi manusia yang paling lelah didunia ini. Ya klo cape dikit, istirahat wajar lah ya guys. Termasuk diri gue. Kadang yg membuat gue puyeng itu, karena gue kurang sabar. Gue ngerasa pengen cepet2 impian tercapai trus selesei. Padahal satu impian tercapai, dua atau tiga impian selanjutnya akan menyusul ke dalam otak kita. Ga akan ada habisnya kan ? 

So, i said that success is a journey. 
Okay, that's all i wanna say. Gue ga tau ini postingan apaan. Yang jelas, setiap impian itu harus dikejar, tapi jgn lupa mengejarnya pake hati. Sebanyak apapun impian yang mau diwujudkan, enjoy it, berserah, dan jangan lupa bahagia. See you! 


Kamis, 31 Mei 2018

Rasa yang tak Bernama


Bisakah kau beri tahu
Kapan kau hadir
Dan mengapa ???
Karena setelah kau menghinggapi,
sulit aku usir
Terasa meski tak ingin merasa
Terpikirkan tanpa berniat memikirkan
Terjadi tanpa pernah menjadi
Kenapa kau datang
Hanya untuk menunjukkan rasa memiliki
Kau tak layak untuk kusimpan
Langit meledak begitu juga jantungku
Selalu ku padamkan kau
Karena aku tahu
Kau hadir bukan untuk membakarku
Kau hadir dengan satu alasan
Untuk meyakinkanku bahwa seseorang disana sangat berarti
Hingga kau beri rasa itu

Rabu, 30 Mei 2018

Terima Tanpa Tapi


Ada beberapa hal bahkan mungkin banyak dalam hidup kita yg sebenarnya tidak kita kehendaki menjadi kenyataan yg harus kita terima.

Biasanya klo udh kayak gitu, berbagai macam perasaan muncul. Kita menjadi begitu emosional. Sisi emosional setiap orang berbeda-beda. Ada yg memang ditunjukkan ada juga yang tidak ditunjukkan tapi masih bisa terasa oleh orang yang melihatnya.

Lantas buat kita sendiri harus bagaimana? Apabila sesuatu yang bukan kita inginkan terjadi.

Disini gue akan share sedikit opini gue ttg hal itu mumpung gue lagi merasakan hal itu. Tapi kalian jangan kepoin masalahnya ya. Gue cuma mau share sikap yg gue ambil krn sesuatu yg tidak gue inginkan terjadi dan di luar ekspektasi gue.

Pertama, biasanya gue bete. Bete bgt klo tau sesuatu itu terjadi. Tapi kebetean gue belum gue olah. Artinya dari rasa bete tersebut gue biasanya mengolahnya menjadi rasa marah, berdiam diri, atau bahkan malah menjadi bersikap bijaksana, tersenyum dan ikhlas. Meskipun gue akui untuk ada di posisi yang terakhir itu (ikhlas) susaaah banget. And gue juga belum nemu formula yang tepat biar bisa cepet ikhlas klo nemuin problem sehari-hari.

Kedua, setelah kebetean gue memuncak. Gue mulai try to open mind. Gue pikirin lagi klo gue marah bakalan kayak gimana. Trus klo gue diem, ada impact nya engga atau justru diem itu sesuatu yang salah. Atau bisa juga klo gue ikhlasin aja, apa itu jalan terbaik untuk saat itu.
Pertanyaan pertanyaan semacam itu gue coba jawab sendiri. Dan cobalah untuk menjawab seobjektif mungkin. Jgn dulu pake perasaan. Krn klo pake perasaan, pasti kita kalah. And akhirnya berakhir dengan kemarahan atau kesedihan.

Ketiga, solusi apa yg bisa diambil. Dan kita fokus pada kenyataan saat ini. Jangan lagi mengingat rencana kita sebelumnya, karena kan udh jelas gagal krn sesuatu itu. Sekarang, giliran kita hidup dengan kenyataan saat ini. Klo harus keujanan ya nikmati aja air ujan.
Ga usah mikirin baju kita yang basah. Adapun klo kita kedinginan, ya terima aja, itu konsekuensi yang tidak dapat kita hindari. Kan sehebat apapun kita berencana, ada Tuhan yang Maha Perencana.

Keempat. Ambil hikmah nya. Gue yakin setiap masalah pasti ada hikmahnya. And itu adalah yang terbaik yang diberikan Tuhan buat kita. Cuma kadang kita yg suka ngeyel dan ga mau bersyukur.

Kelima. Sadari bahwa kita itu manusia. Klo mau bete, betelah dengan wajar. Klo mau marah, marahlah dengan cara yang paling baik. Setiap manusia itu unik. Cara kita mengekspresikan pikiran dan perasaan berbeda beda. So, enjoy it.

Keenam. Klo kalian masih merasakan bete marah kesel dgn hal tsb, cobalah keluar rumah bisa ke mall, karoukean, nonton bioskop dll. Biasanya klo kita bertemu banyak orang, kita akan hilang fokus untuk mikirin terus hal tersebut.

Ketujuh. Cobalah untuk tidur. Dan usahakan sebelum tidur, isi dulu perut kalian biar tidurnya nyenyak. Hahaha
Karena kita tidak akan bisa tidur dalam keadaan perut kosong.

Tulisan ini ga bermaksud buat menggurui kalian ya guys. Tulisan ini anggap aja sbg self reminder buat gue buat bisa bersikap bijaksana ketika sesuatu yg ga gue inginkan terjadi. Mudah2an bermanfaat buat kalian...

Selasa, 29 Mei 2018

22.45

Bulan puasa kali ini, udh empat kali gue kesiangan sahur. The reason is krn gue kebluk. And kekeblukan gue disebabkan oleh jam segini belum bisa tidur. Gue ga termasuk insom parah sih. Cuma klo mood gue belum mau tidur ya susah. Waktu udh nyuruh tidur tapi tangan nyuruh ngetik. Ya udah deh gue ikut tangan gue aja ya. Mumpung bsok juga tanggal merah. Jadi gue ga usah gawe.

Well, belakangan ini, gue pengen bgt share kegundahan gue selama hidup dan selama mengenal apa itu 'LOVE' aka 'CINTA. Gue bukan penyair sih. This is my opinion dari apa yg gue rasain sendiri dan gue amatin dari pengalaman orang. Okay. Yg akan gue angkat disini bukan ttg romantisme dari sebuah percintaan, misalnya kayak pangeran harry dan meghan markle kemaren. Tapi gue pengen share and pengen tau kalian setuju ga klo misalnya cinta itu bebas.

Pernah ga sih kalian merasakan cinta itu seperti penjara. Klo kalian blm merasakan, gue pernah merasakannya.

Kenapa cinta bisa kayak penjara buat gue. Karena seseorang yang mengatasnamakan cinta memberikan banyak batasan. Banyak aturan. Banyak hukum yg berlaku. Dan klo gue melanggarnya seolah olah gue menjadi manusia paling berdosa di dunia.

For example. Gue mau keluar am temen gue. Gue harus izin sama pacar. Trus klo gue udh minta izin and ga dikasi izin, gue ga jadi berangkat and gue diem d rumah.

Gue chat am temen cowok, hp gue d cek sosmed gue d filter and bla bla bla.

Pernah ga sih kalian kayak gitu. Gue harap sih kalian ga ngalamin ya. Hahaha
Tapi yg gue lihat fenomena yg terjadi, dgn jaman yg semakin maju, ko pasangan justru semakin posesif bukan sebaliknya.
And gue masih ga habis pikir klo misalnya cowok/cewek banyak ngatur cewek/cowoknya and banyak ngasi aturan. Itu masih bisa dikategorikan cinta atau bukan.

Karena menurut gue cinta itu bebas. Cinta itu mengudara. Terbang bebas dab dihirup bagi yang mengenalnya. Sedangkan bagi yang belum mengenal arti cinta, cinta hanya sebuah tali yang semakin lama tali itu akan mencekikmu hingga kau tidak mampu lagi bernapas. Lalu, pada saat itu, masih layakkah hal semacam itu disebut cinta. 

Gue, tipe cewek yg ga mau ngatur cowok. Gue sih bebasin cowok gue mau kemana aja. Ga usah deh gue larang. Cuman klo gue jealous ya gue minta penjelasan.
Tapi seenggaknya gue ga kayak kepala sekolah. Yang ngasih aturan banyaaaaak banget. Hehehe

Ada yang bilang, if u love someone, set them free. if they come back they're yours, if they don't they never were. Gue setuju and gue rasain sendiri. Gue punya pengalaman pacaran lama and dengan aturan yang lumayan tight dri pacar gue. And apa coba yg gue rasain. Impactnya ga membuat rasa sayang gue bertambah tuh. Biasa aja.

So buat gue rugi bgt buat cowok/cewek yg ngasi aturan kayak gitu. Hanya membuat penilaian pasangan kita itu menjadi negative. Dan ketika pasangan kita nurutin aturan yg kalian buat bukan berarti karena pasangan kalian itu cinta mati sama kalian. Bisa jadi karena pasangan kalian itu males harus adu argument sama kalian. So mending ikutin aja lah biar cepet. Hahahaha

Gue masih ngebayangin. Betapa bahagianya manusia yg mengenal cinta itu bebas. Tak perlu kita menanyakan kabarnya. Tapi kita sudah tahu bahwa dia sedang memikirkan kita. Dimanapun dia dengan siapapun dia, dia mencintai kita. Itu sih cinta menurut gue.
Ga perlu juga gue cek hp nya tiap hari tiap malem. Ga ada kerjaan. Hahaha
Buat gue, cinta yang bebas yg rileks itu lebih menyenangkan.

Klo ketemu kita bisa ketawa bareng. Kita bisa share semua isi pikiran kita tanpa takut kita melakukan kesalahan and dikasih hukuman.

Tulisan ini tidak didedikasikan buat siapapun. Entah itu cowok atau cewek intinya saran gue jgn terlalu ngasi banyak aturan ke pasangan. Selama kalian bisa membuat nyaman hati pasangan kalian, gue yakin pasangan akan tetap mencintai kalian. Begitupun sebaliknya. Dan tlg diingat, rasa memiliki itu tak harus ditunjukkan dengan larangan bahkan ancaman. Rasa memiliki itu cukup ditunjukkan saat bersamanya buat sebuah momen yg tidak akan bisa dilupakan oleh pasangan kalian seumur hidupnya. Ga perlu minta pasangan kalian berjanji untuk mencintai. Selama kalian mencintai pasangan kalian dengan tepat, maka kalian telah mendapatkan cintanya.

Waktu sudah menunjukkan 23.23. Gue tidur dulu dikarenakan harus bangun sahur dan mudah2an ga kesiangan lagi.
Mudah2an tulisan ini bermanfaat buat kalian ya guys. Sorry klo banyak yg kesindir. Hahaha






Minggu, 03 Desember 2017

My life like's a VUCA

Gue seneng akhirnya gue dapet istilah yg bisa menggambarkan kehidupan gue. Meskipun VUCA world ini baru lahir di era jamannya disruptive,  tapi honestly gue ngerasain hidup gue layaknya VUCA dri dulu jauh sebelum gue tau manajemen itu ada ilmunya. 
So,  what?

Apa sih VUCA itu
Salah satu tantangan yg harus dihadapi oleh dunia bisnis saat ini adalah Vuca World.  Vuca yg merupakan singkatan dari Volatility, uncertainty, complexity,  ambiguity tidak lain adalah gambaran dari situasi bisnis saat ini. 
Di era vuca world,  business growth bisa dikatakan tidak stabil, penuh dengan ketidakpastian dan aturan bisnis juga semakin tidak jelas. Banyak perusahaan besar yg belajar pada perusahaan yg baru berdiri yg kita sebut start up. Kita sudah tahu bahwa menjadi kuat tidak menjamin akan bertahan.  For example perusahaan nokia. Kita bisa belajar bahwa streght will kill you. 
Perusahaan armada taxi bisa dikalahkan oleh ide 3 orang anak muda. Sehingga banyak perusahaan transportasi saat ini merasa bisnisnya bagaikan sebuah roller coaster.
Yups,  kurang lebihnya itulah vuca world yg harus kita hadapi saat ini. 
So,  hubungannya dgn hidup gue?
Melihat sifat yg dimiliki vuca world itu menggambarkan sedikit banyaknya kehidupan gue selama ini.

Selama hidup, gue ga pernah punya roadmap. Gue cuma mau jalanin peluang yg ada di depan gue. Sekarang pun, gue jd dosen ga pernah terpikir sama sekali sebelumnya.
Waktu itu ketua jurusan nawarin gue jd dosen cangkok. Trus gue sharing sama ortu,  ortu setuju ya udah deh gue nyemplung sama dunia perdosenan ampe sekarang.
Waktu gue kuliah,  alasan gue ikut organisasi simple.  Krn gue pengen dapetin surat aktif organisasi buat dapetin beasiswa. Padahal saat itu, gue anti bgt sama org2 yg ada d kepengurusan saat itu.  Wkakaka

Ga ada yg nyangka,  setelah gue masuk,  gue kayak nemuin second home di kampus. Gue ga pernah absen buat nongkrong di ruang hima. Even itu hari minggu sekalipun. 
Termasuk gue nikah. Yg selalu bilang gue nikah tahun 2015 itu sebenernya cowok gue. Gue sendiri gatau deh gmn ntar aja.  Yg pasti waktu itu gue pengen nyelesein dlu S2. Eh ternyata benerab gue nikah tahun 2015. And many more kejadian d hidup gue yg tanpa rencana. Bahkan proses nya itu begitu rancu.

But,  gue ga perlu ceritain bagaiman kerancuan hidup gue.  Hahaha
Gue d sini cuma mau share aja. Vuca itu ga seseram yg dibayangin ko. Asalkan kita udh siap dgn segala perubahan aja. Justru klo menurut gue, roadmap atau longterm goal itu kadang bisa bikin kaku juga. Bisa membuat kita jd ga fleksibel. 

Di era disruptif, ga ada masalah yg abadi deh.  Masalah utamanya sebenernya ketidakpastian itu. So,  it's very important buat short term goal yg pas dgn keadaan.  Menurut gue pointnya disitu.
Btw,  vuca ini erat kaitannya dengan HRD. Siapa sebenernya org yg d tantang dalam era vuca ini. Tidak lain tidak bukan adalah seorang pemimpin. Pimpinan perusahaan harus belajar style of leadership yg cocok di era vuca. Bcoz,  di era vuca bukan orang yg membutuhkan pekerjaan.  Tapi perusahaan yg membutuhkan pegawai.  Begitu pun d marketing. Now,  the customer is not king. Kita bisa sejajar dengan pelanggan.  Pelanggan tidak bisa lagi memaksakan kehendaknya pada perusahaan. 

Sebenernya,  dgn adanya vuca ini gue seneng sih.  Krn gue emg ga suka dgn hal yg flat.  Gue memandang, masalah terbesar gue adalah masalah yg belum gue hadapi.  Sebesar apapun masalah yg pernah gue hadapi itu sudah menjadi masalah kecil saat ini. 
So,  prepare ur self.  I hope cuitan ini bisa inform ur knowledge. Gue cuma mau sharing aja sih,  bkn utk menggurui.  Thankyou guys. 

Kamis, 16 November 2017

Realita Berasa Mimpi

Okay, dulu waktu gue s2 sebenernya gue blm bisa menerima sepenuhnya takdir gue jadi dosen. Maklum lah masih ababil, sekarang juga masih sih. Hahaha

So, singkat cerita gue lulus s2. And for your impormation jadi dosen itu harus punya NIDN yaitu nomor induk dosen nasional. So, gue harus ngurusin itu semua ke bagian kepegawaian di kampus gue. Dari a sampe z gue penuhi persyaratannya. Setelah nunggu kurang lebih 3 bulan nidn gue keluar. Okay I’m so happy. Soalnya nidn itu bisa dibilang kayak sim nya dosen buat ngajar. BUT. Selain nidn ternyata ada yang harus gue penuhi lagi yaitu jabatan fungsional. What is that. Dalam hati gue, apaan lagi sih ini. Jadi dosen ribet bgt deh. And intinya after nidn gue harus punya jabatan fungsional di tahun ini. Dan syaratnya harus memenuhi angka kredit minimum. Jabatan fungsional dosen itu paling bawah nya asisten ahli 3b and angka kreditnya 150. Jadi gue harus ngumpulin SK penugasan dari mulai SK ngajar, SK Pengabdian Pada Masyarakat, and Penelitian. Yang terakhir ini ‘PENELITIAN’ gue baru dua kali cuy ngelakuin penelitian waktu s1 alias skripsi sama s2 alias thesis. And keduanya blm gue masukin ke jurnal manapun. Dan pada saat itu, gue harus menerbitkan jurnal di luar kampus bisa di bilang jurnal nasional gitu deh. OMG apaan lagi iniiiiii… and gue Cuma dikasi waktu sampe akhir tahun 2017. Saat itu udh bulan Februari atau maret gituu gue lupa lagi.


Seperti biasanya gue ga mau panic dulu. Gue so kalem gituuu padahal gue juga gatau mesti kayak gimana. Salah satu prinsip hidup gue, gue ga mau berkoar-koar gue lagi punya masalah abcde trus so sibuk gitu. Prinsip gue, meskipun gue sering nonton youtube, makan maen dll, tp semua kewajiban gue bisa gue penuhi termasuk nerbitin tuh jurnal.


Langsung gue hubungin dosen gue di kampus gue s2 dulu kebetulan saat itu katanya beliau pengelola jurnal. Gue email beliau. Alhamdulillah dapet respon baik but sayangnya ternyata beliau bkn pengelola nya lagi and gue dikasi kontak pengelola yg baru. Gue whatsup and gue kenalan. Gue juga lengsung ceritain kalo gue lagi butuh bgt nerbitin jurnal buat kepentingan jabatan fungsional gue. Akhirnya dia minta gue buat email artikel gue. And prosesnya cuy sampe 4 bulan gue nunggu tuh jurnal kagak terbit-terbit. Gue jadi hopeless. And ga ad acara lain gue harus ikutan call for paper. Apaan lagi call for paper. Call for paper itu semacam karya ilmiah kita or artikel kita itu di presentasikan di depan semua org yang hadir dalam acara tersebut. And biasanya diterbitkan di jurnal kampus yang ngadain tuh acara. Gue ikutan lah yg di purwokerto, trus gue juga ikutan yg di semarang. Selain ikutan call for paper gue juga ngehubungi temen gue yang sama kerja jd dosen di pekalongan. Gue bujuk dia biar bisa terbitin artikel gue di kampusnya. Alhamdulillah dapet respon positive, but ttep aja nunggu cuy. Akhirnya gue pasrah. Apapun yg akan terjadi nanti gue serahin sama Allah. Gue ngomong am diri gue sendiri, gue udh usaha, klo jalannya gue blm dapet jabatan fungsional n harus dapet sanksi or teguran apapun gue akan terima.

BEHIND THE NOTHING TO LOSE 

Gue kan ikutan call for paper dua kali d bulan September, yg satu d unsoed and yang satu d unnes. So, gue udh punya sertifikat pemakalah dua. And udh punya juga prosidingnya. Apa itu prosiding search sendiri d google ya, kepanjangan klo gue jelasin J
Berarti, tinggal nunggu jurnal yg unsoed and yg dipekalongan. Bln September blm ada kabar, selalu yg gue terima itu ‘sdg proses review’ omg bagaimana ini. Tp gue diem aja seolah2 ga ada apa2… hahahaha itulah gue.
Akhirnya di bln oktober jurnal yg d unsoed and yg di pekalongan dua duanya terbit dooong. Omg I’m so happy. But gue diem juga ga bilang kesana kesini. Paling bilang sama atasan gue. Solanya gue takut jd overly proud, jumawa gitu deh..
And krn semuanya udh lengkap gue urusin angka kredit gue. Alhamdulillah nilainya lebih dari yang gue bayangin. Terimakasih Ya Allah.

Hikmah yang bisa gue ambil, Allah itu selalu memberikan sesuatu tepat pada waktunya. Meskipun kita selalu bertanya-tanya bisa ga ya, kapan, kenapa, gimana, dll… tapi sabar memang itu kata yg paling tepat dalam proses penantian itu. Yg paling penting usaha tetep harus full tilt. Keep going guys J  

Rabu, 15 November 2017

welcome back

Dari dulu gue pengen nulis disini ga pernah kesampean. tidak ada alasan apapun kecuali emang gue sendiri yang nggak mau gerakin tangan gue. kayakya tangan gue kebanyakan pegang gadget and buka sosial media. Yups i admit of it.
seneng bgt bisa punya keinginan lagi buat nulis. sekaligus takut juga sih. takut besok udh ga mau nulis lagi hahahaha
mudah2an bisa konsisten nulis. krn udh banyak bgt kata, puisi, cerita yang berceceran dimana-mana. di rumah, di jalan, dikampus, semuanya running through my head.
pengennya sih bisa jadi inspirasi buat orang lain. tapi, ga mau muluk-muluk juga. itu lagu lama, pengen nulis buat inspirasi org lain buktinya kagak nulis-nulis.
for now, cukup buat curahan hati aja. sekalian biar gue mikir juga, ga kebanyakan nonton youtube sambil makan and finally berat badan ga pernah balik lagi ke 45 kg disaat gue dulu masi kuliah :)
okay guys, that's all for today. gue mau cari konsep dulu biar nulisnya ga sampah banget. seengaknya org lain bisa dapet point nya meskipun cuman curhatan gue :) 

Minggu, 09 Februari 2014

it's not about job tittle

Sebenernya tulisanku yg ini, ditulis pas aku lagi di purwokerto tepatnya di kost-an, menjelang tidur biasanya aku biasain nulis. 
Berbeda dengan ceritaku yang sebelumnya, rasanya aku sudah mulai bisa berpandangan positif dengan apa yang aku jalani saat ini. Ternyata, menjadi seorang dosen itu mulia, sama halnya seorang dokter. Aku menjadi malu, ketika melihat dosen2 yang mengajar di pascasarjana, yang terlihat enjoy dan berwawasan luas, rasanya aku terkagum-kagum dan terinspirasi oleh mereka. Lalu, kenapa aku kemaren2 mengeluh terus ya. Mungkin karena semuanya membutuhkan proses. Termasuk proses untuk bisa mencintai apa yang kita kerjakan. Karena yang namanya rasa bosan atau jenuh itu akan selalu ada dalam kehidupan manusia, yang perlu dilakukan adalah cara kita merefresh rasa jenuh tersebut dan mengubahnya menjadi semangat baru.

Pekerjaan yang mulia
“Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa”
Anonim
Rasanya memang benar apabila ada pepatah yang mengatakan bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Kenapa ? karena kita tidak pernah tahu persiapan seorang guru untuk mengajar satu bab materi itu seperti apa. Seorang guru akan menyiapkan materi dari jauh-jauh hari, kemudian ia melatih dirinya agar terlihat ahli didepan siswanya. Ada yang latihan di depan kaca, ada yang latihan adik atau anaknya sebagai muridnya, dll. Dan seorang guru, pasti akan stress apabila materi yang akan diajarkannya belum ia pahami 100%.
Coba bayangkan, itu baru satu materi lho. Sedangkan kita tahu guru selalu dituntut untuk bisa segala hal. Sedangkan seorang murid, tinggal duduk manis mendengarkan gurunya menjelaskan saja, masih ada yang gaduh didalam kelas. Maka tak heran, bila seorang guru disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.
Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihkuTuk pengabdianmu
Engkau sabagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsaTanpa tanda jasa
Dan lebih hebatnya lagi, ilmu yang telah diajarkan oleh seorang guru, akan selalu dibawa oleh sang murid sampai ia beranjak dewasa bahkan sampai tua. Meskipun sang murid kadang dan sering lupa entah siapa guru yang telah mengajarkannya, tapi ilmunya akan selalu ia bawa.
Maka tak heran juga apabila seorang guru dianggap sebagai seseorang yang mulia, karena ia selalu melakukan amal jariyah setiap harinya. Kita tahu amal jariyah adalah amal yang tidak akan pernah terputus meskipun kita sudah meninggal dunia.
Hadits :  
''Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa kepadanya.'' (H.R. Muslim)

Hadist di atas menjelaskan amal perbuatan seorang Muslim akan terputus ketika ia meninggal dunia, sehingga ia tidak bisa lagi mendapatkan pahala. Namun, ada tiga hal yang pahalanya terus mengalir walau pelakunya sudah meninggal dunia, yaitu sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang shaleh.

Dalam riwayat Ibn Majah, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa salam menambahkan tiga amal di atas,
Rasulullah bersabda:
''Sesungguhnya amal dan kebaikan yang terus mengiringi seseorang ketika meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat, anak yang dididik agar menjadi orang shaleh, mewakafkan Alquran, membangun masjid, membangun tempat penginapan bagi para musafir, membuat irigasi, dan bersedekah.'' (H.R. Ibn Majah)
Menurut Imam Al-Suyuti (911 H), bila semua hadits mengenai amal yang pahalanya terus mengalir walau pelakunya sudah meninggal dunia dikumpulkan, semuanya berjumlah 10 amal, yaitu:

1. Ilmu yang bermanfaat
2. Doa anak yang shaleh
3. Sedekah jariyah (wakaf)
4. Menanam pohon kurma atau pohon-pohon yang buahnya bisa dimanfaatkan
5. Mewakafkan buku, Kitab atau Al-Qur’an
6. Berjuang dan membela Tanah Air
7. Membuat sumur
8. Membuat irigasi
9. Membangun tempat penginapan bagi para musafir
10. Membangun tempat ibadah dan belajar.

Ke sepuluh hal di atas menjadi amal yang pahalanya terus mengalir, karena orang yang masih hidup akan terus mengambil manfaat dari ke-10 hal tersebut.
Manfaat yang dirasakan orang yang masih hidup inilah yang menyebabkannya terus mendapatkan pahala walau ia sudah meninggal dunia.
Dari pemaparan di atas, sudah seharusnya kita berusaha mengamalkan 10 hal tersebut atau paling tidak mengamalkan salah satunya, agar kita mendapatkan tambahan pahala di akhirat kelak, sehingga timbangan amal kebaikan kita lebih berat dari pada timbangan amal buruk.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

''Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barang siapa berat timbangan kebaikannya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.'' (Q.S. Al-A'raaf [7]

Sebagai seorang muslim seharusnya saya malu dengan hadits dan ayat suci al-quran diatas, karena tanpa saya sadari saya telah melakukan amal yang pahalanya akan terus mengalir bahkan meskipun saya sudah meninggal dunia, lantas kenapa saya selalu mengeluh ya ? 

Dengan adanya keterangan diatas, seharusnya seorang guru sudah harus meluruskan niatnya bukan lagi profit oriented melainkan niat ibadah. Karena ternyata pejerjaannya sebagai ibadah. Apabila kita beribadah tapi hati kita tidak ikhlas kan percuma, malah menjadi amal yang sia-sia. Maka dari itu, luruskan niat dari sekarang untuk menjadikan semua ini ibadah, semoga dengan niat yang tulus semua menjadi berkah yang terus mengalir baik di dunia maupun di akhirat. Amin

Kesuksesan yang Sejati
“orang sukses bukanlah seseorang yang mempunyai gaji 10 kali lipat dari pengeluarannya, melainkan seorang yang mampu mencintai pekerjaannya seperti ia mencintai dirinya”

“jika seseorang sudah mencintai pekerjaannya, maka ia tidak akan bekerja untuk mencari uang, melainkan uang yang akan mencarinya”
Deasy Lestary Kusnandar

Bismillahirrohmanirrohim, on lagi :)

Assalamualaikum, 

sebenernya yg on itu bukan nulisnya, tapi ngeblog nya. maklum klo dulu itu bikin blog buat curhat yg kurang bermanfaat, masih ababil ceritanya, tapi klo skrg insya allah, lebih bermanfaat. tepatnya lebih ingin share pengalaman hidup aja, mudah2an bisa jd inspirasi buat temen2 semua. karena pengalaman hidup aku yg ga semua org bisa mengalaminya. 

keep in touch, oke ? ;)